Perjalanan menuju jawaban

Malam itu kantor mengadakan acara makan malam bersama teman teman dan relasi. aku sedang tidak mood untuk ikut acara ini. Rasanya ingin menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Tapi akhirnya disanalah aku berada malam itu bersama teman-temandan menikmati makan  fillet ikan, kepiting, udang mayonise dan aneka sambal. Disela percakapan kami bos besar bertanya padaku “kapan menikah? “

Untungnya pertanyaan ini setelah selesai makan. entah rasanya itu akan menghilangkan selera makanku. Sebenarnya ini bukan hal yang baru lagi buatku. pertanyaan itu sudah ditanyakan oleh banyak orang sejak beberapa tahun yang lalu. Rasanya akhir-akhir ini pertanyaan itu tidak lagi terdengar seperti pertanyaan  tapi desakan. Aku yang dulunya menjawab dengan seenaknya, lalu sekenanya kini harus menjawab dengan semaksimal mungkin.

Belum menikah seperti sebuah kesalahan yang harus ku pertanggungjawabkan kepada mereka yang serius mempertanyakan hal itu. Di satu sisi aku bersyukur memiliki orang -orang yang sangat perhatian terhadap status lajang diumur ku yang memasuki 30 tahun ini. Melihat kekhawatiran, prihatin  dan mungkin juga rasa kasihan dibalik pertanyaan mereka.  Entah bagaimana ini juga menjadi masalah saat kurasakan pertanyaan itu tidak hanya menjadi sebuah dorongan saja tapi terkadang  menjadi beban saat aku tidak sedang siap untuk menjawab. 

Ini seperti menjawab pertanyaan yang aku sendiri tak bisa menjawabnya. Bukankah jodoh itu rahasia Ilahi sama seperti rezeki? Apakah mencari jodoh itu mudah atau susah?  tergantung bagaimana kita menjalaninya. Aku tak mau melabelinya seperti itu lagi. Ada maksud disetiap kemudahan dan kesulitan.   Meski begitu mencari jodoh juga bukan hal yang sulit ketika kita tidak menganggapnya sebagai beban.  bukankah barang yang berharga itu memang langka adanya? aku tak memungkiri aku membutuhkan seseorang dengan ekspektasi tertentu. tapi apakah ekspektasi itu terlalu tinggi? tidak. seseorang menginginkan sesuatu yang baik untuk dirinya bukan hal yang salah tergantung  bagaimana ia berusaha untuk mendapatkan nya. usaha inilah yang memantaskan dirinya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketika pada akhirnya apa yang didapatkannya berbeda dari apa yang diharapkannya maka tetap saja itu menjadi jodoh yang pantas untuknya. karena toh tak ada yang lebih mengenal diri kita di banding Allah. Dialah yang paling tahu apa yang terjadi dalam diri kita. Eksistensi-Nya diluar batas ruang dan waktu. Saat usaha  yang kulakukan untuk menemukan jodohku kembali menemui kebuntuan. Aku tahu itu adalah suatu tanda bahwa aku tidak ditujukan untuk berada disana. Jalan yang buntu itu mengarahkanku pada jalan lain yang telah di rancang- Nya untukku. Tapi aku yakin perjalanan yang berlika-liku ini telah dirancang untuk menuju pertemuanku dengannya. Jodoh yang menjadi jawaban perjalananku.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s